2. Kereta Amal
Aku berlari sekencang-kencangnya melewati rel-rel kereta yang melintang sangat panjang, sepanjang Cianjur-Bandung. Bahkan lebih panjang lagi karena rel kereta api ini sambung menyambung dari Banten sampai Surabaya. Jadwal kereta pagi ini dari Cianjur ke Bandung seharusnya pukul 6.12 wib. Namun, hari ini benar-benar membuatku serasa mimpi, kereta api tiba lebih awal lima menit sebelum jadwalnya. Padahal biasanya kereta api tersebut selalu terlambat paling sebentar sepuluh menit dari jadwal sebagaimana kereta-kereta jurusan lainnya. Biasanya sih telat hampir setengah jam.
Aku sempat tidak percaya ketika jam di Dopod-ku dengan tepat menuliskan angka 6.02 am. Padahal keakuratan jam di Dopod kesayanganku ini tidak bisa disangsikan. Aku telah menge-set waktu di sistem operasi Windows Mobile di Dopod-ku ini agar selalu sinkron dengan GMT+7. Jadi, jam, menit dan detik yang tampil di layar Dopod-ku sangatlah tepat dan tidak ada alibi untuk menyalahkan.
Aku yakin bahwa aku tidak sedang mengigau walaupun tubuh ini tidak sempat tidur malam tadi. Aku harus mengejar kereta api yang berdasarkan teori statistika bayesian, kereta api di negeri ini memiliki peluang sebesar nol untuk tiba tepat waktu, apalagi tiba sebelum waktunya. Namun aku takkan salah naik kerata karena di jalur eksklusif ini hanya dilalui kereta amal tersebut. Dilihat dari jarak kereta sekarang dan tubuhku berada, tidak mungkin aku dapat menaikinya walaupun aku berlari seperti ketika aku dikejar anjing Harder Pak Haji Wawan dua hari lalu.
Dan benar saja perhitungan otak kiriku itu. Kereta sudah melaju sementara aku berada sekitar lima puluh meter di belakangnya. Aku harus naik kereta amal ini kalau tidak mau melakukan perjalanan sekitar 9 km menuju jalan protokol.
“Weu…iiiyyyy… Tunggua…aaaan!” Aku berteriak dengan frekuensi maksimal.
“Pak Masiniii…iiis! Tunggguuu…aaaan!”
Pak Rosidi, seorang petugas PT KAI di stasiun itu melihatku berlari dan berusaha membantuku dengan meniup peluit. Namun sayangnya suara peluit, yang bunyinya tidak jauh dari bunyi peluit Pramuka SD, masih kalah dengan hentakan baja ban kereta api dan rel.
Aku berlari sekencang-kencangnya menginjak-injak kerikil di samping rel kereta sambil berteriak-teriak. Namun akselerasi kereta api tidak bisa aku imbangi dengan kecepatan makhluk berkaki dua ini. Kereta semakin menjauh sementara aku harus bisa menaiki kereta ini. Aku harus berteriak sekuat tenaga dalam kesempatan terakhir sebelum kereta benar-benar mencapai kecepatan optimalnya.
“EEEUUUYYYY….. TUUNNNGGGUUUAAAANN……!!!!!”
Tanpa disadari ternyata Pak Rosidi mengikutiku dari belakang dan sedang berlari-lari dengan suara peluit karatannya. Namun, kereta semakin menjauh dan aku telah mencapai titik lelah. Energi dan cakraku telah habis. Kuhentikan langkahku sambil hati berbisik “Selamat tinggal kereta amal”. Kedua lututku kupegang, peluh bercampur hawa dingin mengalir melewati bibirku dan sempat terasa asin di lidah yang tak bertulang. Aku pasrah dan menyerah. Tidak disangka, do’aku ba’da Subuh tidak terkabul. Aku harus menempuh perjalanan sekitar 9 km untuk mencapai jalan raya. Aku bisa kesiangan di hari penentuan nasibku. Ya Allah kenapa hal ini terjadi pada hamba-Mu yang lemah ini.
Pak Rosidi masih berlari dan berhasil mendekatiku. Dia tetap berusaha membantuku dengan suara peluitnya. Di sampingku dia berhenti memegangi pundakku. Peluit yang dari tadi digigitnya, dia lepaskan dan berkata, “Ayo Gun teriak lagi! Daripada harus naik bis kan jauh. Kamu kan mau ujian masuk ke Institut Sunda itu hari ini, bisa kesiangan kalau naik bis.”
Ternyata berita ujianku telah menyebar luas di masyarakat kampung sampai terdengar oleh Pak Rosidi yang antigosip itu. Tapi aku benar-benar lelah, tidak bisa berlari lagi. Dukungan Pak Rosidi tidak berhasil menginduksi energi ke dalam tubuhku. Aku tertunduk.
“Weeeuuuiiiiy…..!! Hayu naaeeeekkk!”, teriak para penumpang kereta.
Telingaku mendengar dengan jelas teriakan orang-orang di kereta amal itu. Mataku memastikan apakah kereta api benar-benar telah berhenti. Raut mukaku kembali ceria menyambut masa depan di kota kembang Bandung. Saat ini, energi baru mengalir deras di sekujur tubuhku.
“Tuh ayo lari!” ujar Pak Rosidi sambil tersenyum ceria.
Kuberlari bagai seorang pemain belakang mengejar striker yang sendiri tanpa kawalan menggiring bola menuju gawang. Alhamdulillaah… Alhamdulillaah… Terima kasih kereta amal. Memang sangat pantas orang-orang menyebutnya kereta amal.
“Gun, berjuanglah! Gambatte!”, teriak Pak Rosidi yang memiliki gen orang Jepang.
“Terima kasih sudah membantuku! Tapi tadi aku lupa beli karcis Pak!” balasku berteriak sambil berlari.
“Ngga apa-apa Gun! Nanti saja bayarnya pas pulang!”
“OK!”, jawabku sambil mengangkat tangan kananku ke atas.
***
Di kereta api yang hanya menarik tiga gerbong itu, aku masih kebagian duduk di bangku belakang dekat jendela. Banyak tukang dagang asongan yang menawarkan barang-barangnya. Ada yang berjualan tahu Sumedang, air mineral, mainan anak-anak, aksesoris wanita dan perkakas rumah. Untung saja aku tidak melihat yang berjualan taraje (tangga bambu).
Aku duduk di samping gadis seumuran denganku. Pandanganku kusebarkan ke seluruh penumpang kereta. Aku menangkap ada sesuatu yang janggal. Kok kebanyakan penumpangnya seumuran denganku. Tidak seperti biasanya yang didominasi oleh Ibu-Ibu dengan keranjang belanjaanya. Agar tidak penasaran, aku harus tanyakan pada gadis di sampingku.
“Ehm, neng”, tanyaku sambil mencolek pangkal lengannya. Eh, tanpa diduga si eneng merasa geli dan merasa tergganggu dengan colekanku. Alisnya terlihat mengkerut dan raut mukanya terlihat jengkel padaku tapi dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Punten neng, saya tidak bermaksud menggoda. Punten!” Aku mengurungkan niatku bertanya padanya. Peluh yang belum sempat mengering kembali membanjiri kulitku. Jadi ngga enak bodi sama si eneng. Posisi dudukku kurapihkan, pandanganku kupalingkan keluar jendela melihat pemandangan kampung yang asri.
“Mmmhhh, ngga apa-apa kok. Emang ada apa?” si eneng ternyata hatinya baik walaupun mimik mukanya masih berwarna keruh. Kepalanya bergoyang-goyang mengikuti hentakan kereta. Rambut sebahunya ikut meloncat-loncat acak. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.
“Anu… saya mau tanya, ah… eh… eneng mau ke… ke… ke Bandung yah?” tanyaku.
“Loh aku kok jadi grogi begini. Lagipula kok jadi nanyain itu.” Hatiku berbisik.
“Saya mah mau ke Bandung. Mau liat orang-orang asing yang lagi ikutan tes di Institut Sunda,” jawab si eneng. Raut mukanya sudah tidak sekeruh sebelumnya. Sekarang baru terlihat ternyata wajah si eneng itu lumayan “mencrang” juga.
Seorang tukang dagang mendekati kami berdua dan menawarkan dagangannya, “De mau beli taraje”.
Aku sontak terperanjat. Mentang-mentang kereta panjang, jualan taraje juga di atas kereta. Kami menolak tawarannya. Dia kembali melanjutkan usahanya untuk menjual barangnya, “Taaaraajee…. Tarajeeee….”
Aku kembali melanjutkan perbincangan sama si eneng itu, “Oh… Apa eneng ke sana cuma untuk itu?”
“Engga juga sih. Saya mau sekalian tes juga. Kamu mau kemana?” gantian sekarang si Eneng yang nanya. Komunikasi jadi lancar dua arah.
“Sama neng, saya…”
“Eh jangan bilang neng atuh. Bilang aja nama saya langsung biar enak didengernya. Bilang aja Markonah!” si eneng eh Markonah memotong kalimatku.
“Markonah ya…” aku simpan namanya di memoriku.
“Saya Gungun!” kuberikan kelima jari tangan kananku ke hadapan Markonah. Dia menerimanya dengan lembut.
“Oya, tadi gimana… Gungun memangnya mau ke mana?” tanya dia.
“Aku mau ke Institut Sunda juga. Mau tes juga. Sama kita.”
“Emangnya mau ngambil departemen apa?”
“Saya mau di Departemen Kendang. Kalau Markonah?”
“Saya ingin masuk Departemen Seni Tari.”
“Ooh… keliatan kok,” kataku asal.
“Ah emang keliatan dari apa Gun?” tanyanya penasaran.
Padahal aku tadi asal ngomong aja, gimana ya jawabnya. Aku terdiam sejenak bingung memikirkan jawabannya soalnya aku belum tahu karakter dia. Kalau tersinggung bisa repot. Sambil diam-diam aku intip wajahnya. Ternyata matanya terlihat masih menunggu jawabanku. “Aha…!” aku dapat ide.
“Mmmhh anu… Markonah jago nari kan? Itu keliatan dari kepalanya goyang-goyang melebihi goyangan kepala saya, kaya yang mau copot gitu. Kata yang pasnya mah, LONCER! Ha…ha…ha…” jawabku sambil tertawa riang gembira.
Tanpa kuduga alis Markonah kembali mengkerut. Malah sekarang bibirnya pun ikut mengkerut juga. Pandangannya dialihkan pada penumpang di depannya sambil lehernya sekuat tenaga menahan goyangan kepala. Usahanya berhasil meredam goyangan kepala loncernya. Tapi hanya sejenak saja. Kepalanya kembali bergoyang loncer seperti penyanyi cilik XXXXXX itu. (Siapa sih namanya?)
“Maaf Markonah. Bukannya mau menghina,” kataku memelas.
Dia tetap bergeming kecuali bagian kepalanya saja yang bergoyang-goyang mengikuti irama kereta api. Seorang tukang dagang datang lagi ke dekat kami, tepatnya ke dekat Markonah dan berujar, “Obeng neng!”
Kejengkelan Markonah semakin memuncak-muncak. Dia tidak menjawab tawaran tukang obeng itu. Dia malah membuang muka ke arah jendela, yang mana ke arahku juga. Aku tersenyum padanya. Dia semakin muak. Dia buang lagi wajahnya ke tengah-tengah kereta. Si tukang obeng tersenyum pula. Semakin terpojok, Markonah memejamkan matanya sambil tertunduk. Si tukang obeng berbalik dan kembali berdagang, “Ararobeng… obeeeeng…”
“Eh Markonah. Apa penumpang-penumpang di sini juga pada mau ikutan tes?” tanyaku mencairkan suasana.
Rupanya pertanyaanku menggugah isi kepalanya. Kepalanya diangkat dan matanya ia buka lebar-lebar. Dia sebarkan pandangannya seluruh penumpang kereta. Alis kanannya naik dan bibir bagian bawahnya terangkat. Tapi tetep mulutnya tidak mau berkata.
“Kayaknya iya deh. Walah kita jadi banyak saingan begini ya?” kataku berretorika. Namun, kayaknya Markonah sudah sangat tersinggung dan memilih untuk membisu saja kepadaku.
Sisa perjalanan ke Bandung kuisi dengan memainkan game Diner Dash di Dopodku, sambil sekali-kali mencuri waktu untuk mengambil gambar kepala goyangnya Markonah. Namun perjalanan tiga jam itu malah membuatku ngantuk dan tertidur di kereta amal itu sampai stasiun terakhir, stasiun Bandung.
NEXT: International Sundanesse Culture Institut
About this entry
You’re currently reading “2. Kereta Amal,” an entry on sang maestro
- Published:
- Januari 29, 2008 / 5:05 pm
- Category:
- Draft (Unedited)
- Tags:
- Kereta Amal, Loncer
No comments yet
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]