1. Malam Pertama
Usiaku sudah beranjak dewasa, namun belum tampak guratan-guratan pertanda tua di wajahku. Gambar yang dipantulkan cermin di kamarku dengan jelas menampilkan bentuk wajahku, walaupun tidak setajam gambar dalam layar tercanggih saat ini: High Definition. Cermin itu hanya cermin biasa yang menempel di pintu lemari kayu jati di kamarku. Bagian bawah cermin itu sudah belah, patahannya entah ke mana. Memang kondisinya sudah seperti itu sejak pertama kali aku melihatnya. Maklum, usia cermin dan lemari itu hampir sama dengan usia nenekku yang sudah meninggal lima tahun silam. Sedangkan aku saati ini, baru lulus SMA dan akan segera meyambut masa depan sebagai maestro di International Sundanesse Culture Institut di Bandung.
Selama enam bulan aku sudah mengikuti bimbingan intensif untuk masuk ke Institut Sunda itu di bawah bimbingan seorang maestro teman pamanku. Sebelumnya, aku sudah mempersiapkan diriku menghadapi ujian seleksi ini sejak kelas 1 SMA. Dalam kurun waktu itu pula aku melakukan korespondensi dengan para maestro internasional termasuk pamanku yang saat ini sedang melakukan tur musim seminya di Eropa. Sebelum hari keberangkatan ke Eropa, pamanku yakin bahwa aku akan lulus seleksi dengan mudah. Kata-kata itulah yang menjadi spiritku sampai saat ini.
“Gungun, kamu pasti bisa. Kamu bisa lulus dengan mudah!” begitulah dukungan organ hatiku menirukan kalimat dukungan pamanku.
Ujian seleksi masuk Institut Sunda itu sangat ketat. Bayangkan, dua ribuan kandidat yang berasal dari seluruh pelosok dunia berbondong-bondong akan datang ke kota kembang yang sejuk. Di kepalanya hanya ada satu tujuan: LULUS SELEKSI. Kandidat-kandidat ini merupakan orang-orang yang terbaik di pusat budaya Sunda di negara masing-masing. Jangan salah, mereka pun sengaja mendatangkan maestro-maestro asli Sunda untuk melatih di negaranya layaknya pelatih timnas sepak bola. Mereka datang ke Bandung berbekal rekomendasi dari maestro-maestro tersebut. Hasilnya bisa ditebak, kompetisi yang sangat ketat. Malah untuk penerimaan mahasiswa tahun ini, Institut Sunda menaikan passing grade ke level tertinggi sepanjang sejarah. Semakin beratlah usaha dua ribuan kandidat ini agar termasuk salah satu dari dua ratus mahasiswa baru yang akan diterima tahun ini.
Malam pertama seleksi Aku benar-benar tidak bisa tidur. Pikiranku dipenuhi energi negatif memikirkan hambatan, tantangan, ancaman dan gangguan ujian seleksi. Sementara otakku masih belum menampakkan perubahan dari gelombang beta ke delta. Sungguh tidak pernah dalam hidupku menjadi segelisah ini. Kembali kubaca do’a sebelum tidur dan kuhitung ayam-ayam di kandang ayam adikku. Tapi usaha itu sia-sia. Aku malah semakin terjaga. Kutambah hitunganku dengan kambing-kambing yang dipelihara adikku. Itu juga tetap sama saja soalnya cuma ada lima ekor kambing bernaung di kandang belakang rumah. Kutambah pula hitunganku dengan seluruh binatang peliharaan satu RW beserta nama-nama pemiliknya. Semuanya sia-sia, gelombang beta di otakku malah berpancar semakin kuat. Kubuka selimut yang sejak ba’da Isya menutupi wajahku. Aku bangun dan duduk sebentar untuk menenangkan diri.
“Gun, kamu bisa lulus besok. Pamanmu loh yang bilang gitu. Makanya jangan khawatir dengan hari esok. Masih ingat kan pesan Prie GS dalam refleksinya? Hari ini ya hari ini, besok ya besok. Jangan menarik waktu di depan yang belum tentu ke dimensi waktu saat ini. Semua takdir ada di tangan Allah. Yuk bobo yu….”, ajak hatiku.
Kembali kurebahkan badanku di kasur tipis yang sudah keras itu dengan harapan bisa tertidur pulas menyambut hari pertama ujian seleksi. Aku merindukan keheningan sejenak untuk malam ini. Namun apa lacur, malah suara jarum jam dinding di kamarku sangat jernih terdengar di kedua gendang telingaku seperti ketukan drum. Suara jangkring dan katak bersahut-sahutan bermaksud menghiasi malam dengan nyanyiannya. Tetapi dalam telingaku nyanyian mereka seperti teriakan ribuan The Viking, suporter Persib yang sedang mencaci maki wasit sambil melemparinya dengan botol-botol minuman di stadion Jalak Harupat.
Berbagai usaha lain yang belum pernah kulakukan untuk menurunkan gelombang otakku ke delta sudah aku coba, tapi tetap tidak berhasil. Terpaksa aku bangun kembali dan kunyalakan saja lampu kamar lima watt yang bergelayut di eternit kamar. Kupicingkan mataku untuk melihat jam yang entah dari kapan terus memutarkan jarumnya di kamar ini. Astaghfirullah, kombinasi posisi jarum-jarum jam itu sudah menunjukkan pukul empat kurang tujuh menit.
“Maaf ya Gun, aku gagal menaklukan jasadmu untuk tidur”, ujar hatiku
Ya sudah, kayu sudah digergaji, kayunya tinggal dibuat pintu dan tai gergajinya dibuat bubur kayu saja untuk dibikin furnitur-furnitur murahan. Aku meloncat setinggi-tingginya sambil mengangkat kedua tanganku layaknya Bekamenga mencetak goal penentuan di waktu kritis akhir pertandingan. Kudengarkan saja sahutan binatang malam seolah-olah teriakan kesenangan The Viking menggetarkan plafon stadion. Hari itu kusambut pula olehku dengan mata yang berakar merah. Pikiranku kuarahkan dengan sekuat tenaga untuk menjadi positif dan kubiarkan gelombang beta di otakku memancar sekuat-kuatnya. Otot pipiku kupaksa menarik bibirku untuk tersenyum. Hatiku pun kupaksa memberikan dukungan pada jasadku, seperti Criss John akan menaiki ring tinju.
“Gungun…! Gungun…! Gungun…! Gungun…!”, begitulah kira-kira dukungan hatiku berirama.
Tak lama kemudian, azan Subuh berkumandang menerobos cakrawala. Membangunkan makhluk-makhluk yang tertidur untuk segera berdzikir. Menyadarkan seluruh sel tubuh untuk bersujud ke haribaan-Nya.
Setiap makhluk memiliki cara sendiri-sendiri untuk berzikir. Pohon dengan goyangan daun dan gesekan dahan-dahannya. Burung dengan nyanyian merdunya. Kelelawar dengan kepakan sayapnya. Batu dengan diamnya. Tidak semua bentuk zikir makhluk itu dipahami manusia dan tidak pula makhluk lain mengerti shalat adalah salah satu bentuk zikir manusia.
Langit waktu itu mengguratkan garis putih pertanda shubuh. Bintang-bintang bekas pentas keindahan tadi malam masih jelas terlihat. Bintang timur, sang Venus, mendominasi langit tempat keluarnya sang sumber energi. Rasi bintang waluku masih bisa diidentifikasi di bagian utara. Sedangkan di bagian selatan, buntut kalajengking masih tampak membentuk rasi bintang skorpio. Ayam-ayam mulai bersahutan menyemangati sang mentari untuk menampakkan dirinya di pentas timur. Shubuh itu terasa begitu bersemangat di mata merahku. Menularkan energinya di tubuh yang bergetar tidak sempat tertidur ini.
Aku biarkan tubuhku terbasahi sucinya air wudlu untuk menghadap Tuhan Yang Maha Menentukan. Kuberangkatkan tubuhku ke satu-satunya masjid di kampung ini. Setelah shalat, kuberdo’a atas masa depanku agar diberikan jalan yang sangat mudah untuk dilalui. Mudah-mudahan hari ini adalah termasuk dari salah satu hari terindah dalam hidupku.
Lima belas menit lagi menuju pukul 05.47. Kereta api akan tiba sebentar lagi di stasiun depan rumahku. Memang, aku tinggal di pinggiran Jakarta, jalan kareta, Cianjur-Bandung. Orang-orang menamakan kereta api ini dengan sebutan kereta api amal. Terang saja, kereta ini bisa berhenti layaknya angkot di jalan raya. Penumpang bisa memberhentikan kereta ini di mana pun mereka suka. Tidak usah menunggu stasiun yang jaraknya berjauhan. Tinggal bilang saja ke masinisnya Pak kiri dong Pak! Sang masinis dengan sigap akan menghentikan laju kereta api ini. Sang masinis tidak takut akan terjadi tabrakan dengan kereta api di belakangnya, karena memang jalan kereta Cianjur-Bandung adalah eksklusif untuk kereta ini saja.
“Bah, Ma, Gungun pamit nya. Du’akeun sing lulus!” kataku sambil mencium punggung tangan kedua orangtuaku.
“Nya Abah jeung Ema mah teu weleh ngadu’akeun kasaean. Mudah-mudahan bisa lulus jeung bisa jadi maestro leuwih ti emang maneh.” Kata Abah sambil mencium dahi dan kedua pipiku.
Begitupula Ema mencium dahi dan kedua pipiku sambil sedikit terisak-isak seperti orang tua yang melepas anaknya merantau ke negeri Arab jadi TKI. Padahal nyatanya, ujiannya hanya berlangsung tiga jam dan hari ini pula aku akan sudah ada di rumah ini lagi.
“Assalaamu’alaykum.”
“Wa’alaykumussalaam Warahmatullah”, balas Abah dan Ema bersamaan.
About this entry
You’re currently reading “1. Malam Pertama,” an entry on sang maestro
- Published:
- Januari 2, 2008 / 4:29 am
- Category:
- Draft (Unedited)
- Tags:
3 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]